Beranda / Opini / Becik Ketitik, Ala Ketara”: Kebenaran Tak Akan Pernah Tertutup, Kebaikan Akan Bersinar Terang

Becik Ketitik, Ala Ketara”: Kebenaran Tak Akan Pernah Tertutup, Kebaikan Akan Bersinar Terang

SIDOARJO,penarealita.id. — Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang penuh dinamika, sebuah pepatah leluhur Jawa yang diwariskan turun-temurun kembali mengingatkan kita akan kebenaran abadi: “Becik ketitik, ala ketara”.

Ungkapan sederhana namun sarat makna ini mengajarkan bahwa segala perbuatan manusia — baik yang mulia maupun yang tercela — pada akhirnya akan terungkap dengan nyata, tak dapat ditutup rapat selamanya.

Pepatah “Becik ketitik, ala ketara” adalah ajaran luhur budaya Jawa yang menyatakan bahwa segala perbuatan baik maupun buruk yang dilakukan seseorang, sekalipun disembunyikan rapat-rapat, pada waktunya akan terlihat jelas dan diketahui banyak orang. Kebaikan akan bersinar seperti bintang di langit, sedangkan keburukan akan terungkap sendiri tanpa dicari.

Pesan utama: kebaikan akan membawa kebahagiaan dan nama baik, sedangkan keburukan akan mendatangkan kerugian dan aib bagi pelakunya.

Ajaran ini dimiliki dan dijaga oleh seluruh masyarakat Jawa secara turun-temurun, dari para leluhur, orang tua, tokoh masyarakat, hingga generasi muda saat ini. Seluruh umat manusia, tanpa memandang suku, agama, maupun kedudukan, menjadi pelaku sekaligus saksi kebenaran dari pepatah ini — setiap orang yang berbuat baik atau buruk akan memetik buah perbuatannya sendiri.

Ajaran ini hidup dan dihayati di mana saja: di lingkungan keluarga, di sekolah, di tempat kerja, di tengah masyarakat, hingga di ruang publik maupun dunia maya. Khususnya di tanah Jawa, termasuk Kabupaten Sidoarjo dan sekitarnya, pepatah ini kerap diucapkan sebagai pengingat tulus dalam percakapan sehari-hari, pertemuan warga, hingga pidato para pemimpin daerah.

Pepatah ini lahir sejak zaman dahulu kala, diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi ratusan tahun silam. Namun kebenarannya tetap hidup setiap saat:

– Saat ini — ketika kebaikan dilakukan dengan tulus meski tak dilihat orang;
– Nanti — ketika hasil perbuatan itu mulai tampak;
– Suatu hari nanti — ketika segala sesuatu menjadi terang benderang, tak ada lagi yang bisa disembunyikan.

Tidak ada batas waktu bagi kebenaran untuk terungkap; ia mungkin lambat, namun pasti datang.

Mengapa hal ini senantiasa terjadi? Karena:

– Kebaikan meninggalkan jejak yang baik di hati orang lain; jejak itu tak akan hilang meski tak dibicarakan.

– Keburukan meninggalkan jejak yang buruk; sekalipun disembunyikan, ia akan meninggalkan tanda yang lama-lama tercium dan diketahui.

– Hukum alam dan keadilan Tuhan bekerja dengan sempurna: setiap perbuatan memiliki balasan yang pantas, tepat pada waktunya.

– Kejujuran dan kebaikan pada akhirnya akan mengalahkan kebohongan, karena kebenaran memiliki kekuatan yang tak dapat dipadamkan.

“Tak ada rahasia yang dapat tersembunyi selamanya. Apa yang ditanam, itulah yang dipanen — menanam kebaikan akan memetik kebahagiaan, menanam keburukan akan memetik kesengsaraan.

Bagaimana prinsip ini tampak nyata dalam kehidupan?

– Ketika berbuat baik tanpa pamrih — meski tak ada yang tahu saat itu, lama-lama orang akan merasakan manfaatnya, kepercayaan tumbuh, dan nama baik terangkat. Seperti air yang jernih, perlahan namun pasti kejernihannya terlihat semua.

– Ketika berbuat buruk — sekalipun tertutup rapat, ketakutan dan kegelisahan menyertai pelakunya. Seiring waktu, bukti-bukti akan muncul satu per satu, kepercayaan orang hilang, dan pelaku menanggung akibatnya sendiri.

– Prosesnya — tidak selalu terjadi seketika. Kadang butuh waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan lebih lama. Namun seperti benih yang ditanam, pasti akan tumbuh dan berbuah — baik atau buruk sesuai apa yang ditanam.

– Penerapannya — hidup jujur, berkata benar, menolong sesama tanpa mengharap balasan, dan menjauhi segala yang tidak baik. Jadilah pelaku kebaikan yang tenang, karena pada akhirnya semua akan terlihat jelas.

PENUTUP

“Becik ketitik, ala ketara” bukan sekadar kata-kata indah, melainkan cermin kehidupan yang nyata. Mari kita jadikan pedoman hidup: pilihlah berbuat baik, karena kebaikan sekecil apa pun tak akan sia-sia; dan jauhi perbuatan buruk, karena tak ada tempat bersembunyi bagi kebenaran yang akan datang.

Biarlah kebaikan menjadi cahaya yang menerangi jalan kita, hingga suatu hari nanti — ketika semua terlihat dengan jelas — orang-orang berkata: “Ia telah berbuat baik, dan kebaikannya tetap hidup setelahnya.”

(Gung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *