Beranda / Opini / “Kalau Besar Mau Jadi Apa?” Pertanyaan Masa Kecil yang Diam-Diam Menjadi Cermin Perjalanan Hidup

“Kalau Besar Mau Jadi Apa?” Pertanyaan Masa Kecil yang Diam-Diam Menjadi Cermin Perjalanan Hidup

SIDOARJO,penarealita.id. – “Kalau besar nanti mau menjadi apa?” Pertanyaan sederhana itu mungkin pernah terdengar hampir di setiap rumah, sekolah, atau ketika anak-anak sedang berkumpul bersama keluarga. Bagi orang dewasa, pertanyaan tersebut terdengar biasa. Namun bagi seorang anak kecil, pertanyaan itu bisa menjadi pintu menuju dunia penuh imajinasi dan cita-cita.

Dahulu, ketika masih kecil, banyak dari kita dengan polos menjawab ingin menjadi dokter, polisi, tentara, guru, pilot, presiden, pengusaha, atau bahkan menjadi seorang astronot. Ada pula yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola, penyanyi, artis, atau profesi lain yang saat itu terlihat begitu hebat di mata anak-anak.

Pertanyaan itu biasanya muncul dari orang tua, guru, saudara, maupun orang-orang terdekat. Mereka ingin mengetahui apa yang ada dalam pikiran seorang anak tentang masa depannya. Siapa yang bertanya? Bisa siapa saja. Kapan ditanyakan? Biasanya ketika masih duduk di bangku sekolah atau saat sedang bermain. Di mana? Bisa di rumah, sekolah, maupun lingkungan tempat bermain.

Namun, perjalanan waktu sering kali membuat jawaban tersebut berubah.

Anak yang dahulu ingin menjadi dokter, ketika dewasa mungkin justru menjadi pengusaha. Anak yang bercita-cita menjadi polisi bisa saja akhirnya bekerja sebagai karyawan. Mereka yang ingin menjadi guru mungkin menjalani profesi lain. Bahkan ada yang dulu tidak tahu ingin menjadi apa, tetapi akhirnya menemukan jalan hidupnya setelah melewati berbagai pengalaman.
Di situlah menariknya perjalanan kehidupan manusia.

Cita-Cita Anak dan Realitas Kehidupan
Pada masa kanak-kanak, cita-cita sering kali dibentuk oleh apa yang dilihat dan didengar. Anak melihat dokter memakai jas putih, kemudian menganggap dokter sebagai pekerjaan yang hebat. Melihat polisi berseragam, muncul keinginan menjadi polisi. Melihat guru berdiri di depan kelas, muncul keinginan untuk menjadi guru.

Tidak semuanya memahami bahwa di balik sebuah profesi terdapat proses panjang, pendidikan, tanggung jawab, kerja keras, dan berbagai tantangan.
Karena itu, jawaban anak terhadap pertanyaan “mau menjadi apa?” sebenarnya bukan sekadar pilihan pekerjaan. Jawaban tersebut merupakan bentuk imajinasi tentang kehidupan yang ingin mereka jalani.

Ada anak yang ingin menjadi dokter karena ingin membantu orang sakit. Ada yang ingin menjadi polisi karena ingin melindungi masyarakat. Ada yang ingin menjadi guru karena ingin mengajar. Ada pula yang ingin menjadi pengusaha karena membayangkan memiliki usaha sendiri dan membuka lapangan pekerjaan.

Mengapa pertanyaan tersebut penting?

Karena dari pertanyaan sederhana itulah seorang anak mulai belajar mengenal masa depan.
Tidak Semua Cita-Cita Harus Menjadi Kenyataan
Seiring bertambahnya usia, seseorang mulai memahami bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Kondisi ekonomi keluarga, kesempatan pendidikan, lingkungan, kemampuan, kebutuhan hidup, bahkan keadaan yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya dapat mengubah perjalanan seseorang.
Ada yang harus bekerja lebih cepat untuk membantu keluarga. Ada yang tidak dapat melanjutkan pendidikan sesuai keinginannya. Ada pula yang sudah menempuh pendidikan tertentu tetapi kemudian memilih pekerjaan yang berbeda.

Hal tersebut bukan berarti seseorang gagal mencapai cita-cita.
Sebab, keberhasilan hidup tidak selalu diukur dari apakah seseorang menjadi seperti yang pernah ia katakan ketika kecil.

Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab dan berusaha menjadi manusia yang bermanfaat.
Dulu Ingin Menjadi Apa, Sekarang Menjadi Siapa?
Pertanyaan masa kecil tersebut terkadang kembali muncul ketika seseorang telah dewasa.

“Dulu waktu kecil ingin jadi apa?”
Pertanyaan itu bisa membawa seseorang kembali mengingat masa lalu. Mengingat seragam sekolah, teman bermain, guru, halaman sekolah, permainan sederhana, hingga mimpi-mimpi yang dahulu terasa begitu besar.
Mungkin cita-cita itu tidak tercapai. Namun, perjalanan menuju kehidupan sekarang tentu menyimpan cerita yang tidak kalah berharga.

Ada perjuangan yang tidak terlihat. Ada kegagalan yang pernah dirasakan. Ada kesempatan yang datang dan pergi. Ada orang-orang yang membantu. Ada pula keputusan sulit yang harus diambil.
Semua pengalaman tersebut akhirnya membentuk seseorang menjadi dirinya yang sekarang.

Siapa yang Menentukan Masa Depan?
Ketika anak-anak ditanya tentang cita-cita, orang dewasa terkadang tanpa sadar memberikan standar tertentu tentang pekerjaan yang dianggap sukses.
Padahal, setiap anak memiliki kemampuan dan jalan hidup yang berbeda.

Yang terpenting bukan sekadar menanyakan, “Kamu mau menjadi apa?”
Tetapi juga perlu bertanya, “Kamu ingin menjadi orang seperti apa?”
Pertanyaan kedua memiliki makna yang lebih luas.

Menjadi dokter memang baik. Menjadi polisi juga baik. Menjadi guru, pedagang, petani, nelayan, pengusaha, wartawan, mekanik, sopir, pekerja pabrik, seniman, maupun profesi lainnya juga memiliki nilai selama dijalankan dengan jujur dan bertanggung jawab.

Sebab, ukuran keberhasilan bukan hanya jabatan atau penghasilan.
Pelajaran dari Sebuah Pertanyaan Sederhana
Pertanyaan “kalau besar mau menjadi apa?” ternyata menyimpan pelajaran kehidupan yang panjang.

Pada akhirnya, tidak semua anak akan menjadi seperti yang mereka cita-citakan dahulu.Tetapi mungkin memang bukan itu tujuan sebenarnya.

Cita-cita masa kecil bisa saja berubah, namun semangat untuk memiliki masa depan yang lebih baik seharusnya tetap hidup.

Kini, ketika usia telah bertambah dan kehidupan sudah jauh berbeda, mungkin pertanyaan tersebut layak diajukan kembali kepada diri sendiri.
“Dulu waktu kecil ingin menjadi apa?”
Lalu dilanjutkan dengan pertanyaan yang lebih penting:
“Sekarang, sudah menjadi orang seperti apa?”

Karena pada akhirnya, kehidupan bukan hanya tentang profesi apa yang berhasil kita dapatkan, melainkan tentang seberapa baik kita menjalani perjalanan, seberapa banyak manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain, dan seberapa kuat kita tetap berdiri setelah melewati berbagai ujian kehidupan.

Cita-cita masa kecil boleh berubah.

Namun, harapan untuk menjadi manusia yang lebih baik seharusnya tidak pernah berhenti.

(Gung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *