Beranda / Opini / Aja Nggolek Mulya, Kanthi Nggawe Lara”: Pitutur Jawa tentang Kemuliaan yang Tak Boleh Mengorbankan Orang Lain

Aja Nggolek Mulya, Kanthi Nggawe Lara”: Pitutur Jawa tentang Kemuliaan yang Tak Boleh Mengorbankan Orang Lain

SIDOARJO,penarealita.id. — Ungkapan Jawa “Aja nggolek mulya, kanthi nggawe lara. Aja nggolek padhang, kanthi ngrusak uriping liyan” menyimpan pesan moral yang kuat tentang cara seseorang menjalani kehidupan. Secara sederhana, kalimat tersebut mengingatkan agar seseorang tidak mengejar kemuliaan dengan cara menyakiti orang lain dan tidak mencari kehidupan yang terang dengan merusak kehidupan sesamanya.

Pitutur tersebut bukan sekadar rangkaian kata dalam bahasa Jawa. Di dalamnya terkandung ajaran mengenai etika, empati, tanggung jawab, keseimbangan hidup, serta konsekuensi dari setiap tindakan manusia. Pesan itu relevan dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika seseorang berada dalam situasi harus memilih antara kepentingan pribadi dan kepentingan orang lain.

Jangan Mengejar Kemuliaan dengan Menyakiti
Kalimat “aja nggolek mulya, kanthi nggawe lara” dapat dimaknai sebagai larangan untuk mencari kehormatan, kedudukan, keuntungan atau pengakuan dengan mengorbankan perasaan maupun kepentingan orang lain.

Dalam kehidupan sosial, seseorang tentu memiliki keinginan untuk berhasil. Ada yang ingin memiliki jabatan, usaha berkembang, mendapatkan pengakuan, maupun memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Namun, pitutur Jawa tersebut memberikan batas moral bahwa keberhasilan seharusnya tidak dibangun di atas penderitaan orang lain.

Sebab, kemuliaan yang diperoleh dengan cara menyakiti sesama pada akhirnya dapat kehilangan makna. Secara sosial, keberhasilan seseorang tidak hanya dinilai dari apa yang berhasil diraih, tetapi juga bagaimana cara pencapaian tersebut dilakukan.

Jangan Mencari “Padhang” dengan Merusak Kehidupan Orang Lain
Pesan kedua berbunyi “aja nggolek padhang, kanthi ngrusak uruping liyan.”

Dalam konteks kehidupan, kata padhang dapat dimaknai sebagai terang, jalan keluar, keberhasilan atau kehidupan yang lebih baik. Sementara uruping liyan dapat dipahami sebagai kehidupan atau nyala kehidupan orang lain.

Maknanya, seseorang tidak seharusnya membuat hidupnya menjadi lebih baik dengan sengaja menghancurkan kehidupan orang lain.

Prinsip tersebut dapat diterapkan dalam berbagai bidang. Dalam pekerjaan, misalnya, persaingan seharusnya dilakukan secara sehat. Dalam bisnis, keuntungan tidak semestinya dicapai dengan merugikan konsumen atau pelaku usaha lainnya. Dalam kehidupan bermasyarakat, kepentingan pribadi juga perlu ditempatkan secara seimbang dengan kepentingan lingkungan sekitar.

(Gung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *