SIDOARJO,penarealita.id. – Ungkapan Jawa “Ngunu yo ngunu, tapi ojo ngunu” mungkin terdengar sederhana dan bahkan seperti kalimat bercanda. Namun, di balik rangkaian kata tersebut tersimpan pesan kehidupan yang cukup dalam. Ungkapan ini mengajarkan seseorang agar dalam menjalani kehidupan tetap mengetahui batas, memahami situasi, serta menjaga sikap dan perasaan orang lain.
Bagi masyarakat Jawa, bahasa tidak sekadar digunakan untuk berkomunikasi. Dalam banyak kesempatan, bahasa juga menjadi sarana menyampaikan nasihat, kritik, teguran, hingga pendidikan karakter. Salah satunya melalui ungkapan “Ngunu yo ngunu, tapi ojo ngunu”, yang secara sederhana dapat dimaknai, “Ya begitu memang begitu, tetapi jangan sampai seperti itu.”
Ungkapan tersebut biasanya digunakan ketika seseorang melakukan sesuatu yang sebenarnya masih dapat dimaklumi, tetapi cara atau tindakannya sudah melewati batas kepantasan. Karena itu, kalimat tersebut dapat menjadi teguran halus tanpa harus langsung memarahi atau mempermalukan orang yang ditegur.
Makna di Balik Ungkapan
Kata “ngunu” dalam bahasa Jawa berarti “begitu” atau “seperti itu”. Sementara “ojo” berarti “jangan”. Jika diterjemahkan secara harfiah, ungkapan tersebut memang terlihat sederhana.
Namun dalam kehidupan sehari-hari, maknanya jauh lebih luas.
“Ngunu yo ngunu” dapat menggambarkan penerimaan terhadap sebuah keadaan. Artinya, seseorang memahami bahwa sesuatu memang terjadi atau seseorang memang memiliki cara tertentu dalam bertindak.
Sedangkan “tapi ojo ngunu” menjadi batasannya. Artinya, meskipun suatu hal bisa diterima, bukan berarti semuanya boleh dilakukan tanpa mempertimbangkan norma, etika, kesopanan dan perasaan orang lain.
Pesan inilah yang membuat ungkapan tersebut tetap relevan hingga sekarang.
Ketika Teguran
Disampaikan Secara Halus
Dalam budaya Jawa, teguran sering kali disampaikan dengan bahasa yang tidak terlalu keras. Tujuannya bukan semata-mata untuk menunjukkan kesalahan seseorang, melainkan memberikan kesempatan kepada orang tersebut untuk menyadari dan memperbaiki perilakunya.
Contohnya, seseorang boleh bercanda dengan temannya. Namun ketika candaan tersebut sudah menyentuh persoalan pribadi, keluarga, kondisi fisik, atau sesuatu yang membuat orang lain tersinggung, maka muncul ungkapan, “Ngono yo ngono, tapi ojo ngono.”
Artinya, bercanda boleh, tetapi jangan sampai menyakiti.
Bekerja keras juga boleh, tetapi jangan sampai mengorbankan kesehatan dan keluarga. Berani menyampaikan pendapat juga boleh, tetapi jangan sampai menghina orang lain.
Menegakkan prinsip juga penting, tetapi jangan sampai kehilangan rasa hormat kepada sesama.
Dari contoh tersebut terlihat bahwa ungkapan ini sebenarnya berbicara tentang batas perilaku manusia.
Siapa yang Bisa Menggunakan?
Ungkapan “Ngunu yo ngunu, tapi ojo ngunu” dapat digunakan siapa saja dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua dapat menggunakannya ketika menasihati anak.
Teman dapat menggunakannya ketika mengingatkan teman lainnya. Bahkan masyarakat dapat menggunakannya sebagai bentuk kritik sosial terhadap suatu perilaku.
Kalimat tersebut tidak selalu bermakna marah. Dalam banyak situasi, ungkapan itu justru dapat disampaikan sambil tersenyum atau bercanda.
Namun, konteks tetap menjadi hal penting. Nada bicara, hubungan antara orang yang berbicara, serta situasi ketika ungkapan tersebut digunakan akan menentukan maknanya.
Mengapa Ungkapan Ini Masih Relevan?
Perkembangan zaman membuat pola komunikasi masyarakat berubah. Media sosial membuat seseorang dapat menyampaikan pendapat dengan cepat kepada banyak orang.
Persoalannya, kecepatan berbicara terkadang tidak diikuti dengan kehati-hatian dalam memilih kata.
Seseorang bisa menulis komentar dalam hitungan detik, tetapi dampaknya dapat berlangsung lama. Candaan yang dianggap lucu oleh seseorang belum tentu lucu bagi orang lain.
Dalam kondisi seperti ini, filosofi “Ngunu yo ngunu, tapi ojo ngunu” justru memiliki relevansi yang kuat.
Pesannya sederhana: boleh melakukan sesuatu, tetapi tetap harus mengetahui batasnya.
Mengajarkan Etika dalam Kehidupan
Nilai utama dari ungkapan tersebut adalah etika. Manusia hidup berdampingan dengan orang lain sehingga setiap tindakan memiliki konsekuensi sosial.
Kebebasan bukan berarti bebas melakukan apa saja. Berpendapat bukan berarti bebas menghina. Bercanda bukan berarti bebas mempermalukan. Menegur bukan berarti bebas merendahkan.
Karena itu, mengetahui batas merupakan bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam lingkungan keluarga, misalnya, anak perlu belajar menghormati orang tua. Di lingkungan kerja, seseorang harus mampu menghargai rekan kerja. Dalam pergaulan, seseorang perlu memahami kapan waktunya bercanda dan kapan waktunya serius.
Nasihat untuk Generasi Muda
Ungkapan Jawa semacam ini juga dapat menjadi media pendidikan karakter bagi generasi muda.
Anak-anak dan generasi muda perlu memahami bahwa sopan santun bukan berarti ketinggalan zaman.
Justru kemampuan menghargai orang lain menjadi modal penting dalam kehidupan sosial.
Di era digital, prinsip tersebut dapat diterapkan dalam penggunaan media sosial.
Sebelum memberikan komentar, seseorang dapat berpikir apakah komentarnya bermanfaat atau justru menyakiti. Sebelum membagikan informasi, perlu dipertimbangkan apakah informasi tersebut benar. Sebelum membuat lelucon, perlu dipikirkan apakah ada orang lain yang menjadi korban.
Dengan demikian, ungkapan “Ngunu yo ngunu, tapi ojo ngunu” tidak hanya menjadi bahasa sehari-hari, tetapi dapat diterjemahkan menjadi prinsip sederhana dalam berperilaku.
Kapan Ungkapan Ini Tepat Digunakan?
Ungkapan ini tepat digunakan ketika seseorang ingin memberikan pengingat mengenai batas kepantasan tanpa harus menggunakan kata-kata kasar.
Misalnya, seorang teman terlalu sering bercanda kepada orang lain.
Temannya dapat mengatakan, “Ngunu yo ngunu, tapi ojo ngunu.”
Maksudnya bukan melarang bercanda, tetapi mengingatkan agar candaan tidak berlebihan.
Begitu pula ketika seseorang menyampaikan kritik. Kritik boleh disampaikan, tetapi harus tetap menggunakan bahasa yang santun dan berdasarkan persoalan yang jelas.
Bagaimana Menerapkannya dalam Kehidupan?
Cara menerapkan filosofi tersebut sebenarnya tidak sulit. Kuncinya adalah berpikir sebelum bertindak dan berbicara.
Pertama, memahami situasi. Tidak semua tempat cocok untuk bercanda.
Kedua, menghargai perasaan orang lain. Apa yang menurut kita biasa saja belum tentu dirasakan sama oleh orang lain.
Ketiga, menjaga ucapan. Kata-kata yang sudah keluar sulit ditarik kembali.
Keempat, memahami batas. Sesuatu yang diperbolehkan bukan berarti boleh dilakukan secara berlebihan.
Kelima, berani memperbaiki diri ketika mendapat teguran.
Filosofi Sederhana dengan Makna Mendalam
“Ngunu yo ngunu, tapi ojo ngunu” merupakan contoh bagaimana masyarakat Jawa sering menyampaikan pesan kehidupan melalui kalimat sederhana.
Tidak ada kata-kata rumit. Tidak ada penjelasan panjang.
Tetapi ketika direnungkan, ungkapan tersebut mengajarkan keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab, antara keberanian dan kesopanan, serta antara keinginan pribadi dan penghormatan kepada orang lain.
Pada akhirnya, kehidupan bermasyarakat membutuhkan batas.
Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan saling merendahkan. Kita boleh bercanda, tetapi jangan menyakiti. Kita boleh berani, tetapi jangan semena-mena. Kita boleh mengejar kepentingan sendiri, tetapi jangan merugikan orang lain.
“Ngunu yo ngunu, tapi ojo ngunu.”
Sebuah ungkapan sederhana dari kehidupan sehari-hari yang mengingatkan bahwa menjadi manusia bukan hanya tentang apa yang bisa dilakukan, tetapi juga tentang memahami kapan harus berhenti dan tahu batas.
(Gung)















