Beranda / Opini / Ajining Raga Saka Busana, Ajining Diri Saka Lati: Filosofi Jawa tentang Harga Diri dan Etika

Ajining Raga Saka Busana, Ajining Diri Saka Lati: Filosofi Jawa tentang Harga Diri dan Etika

SIDOARJO, penarealita.id. – Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, berbagai pitutur luhur Jawa masih menyimpan pesan yang relevan untuk kehidupan masyarakat masa kini. Salah satunya adalah ungkapan “Ajining Raga Saka Busana, Ajining Diri Saka Lati.”
Pepatah tersebut bukan sekadar rangkaian kata yang diwariskan secara turun-temurun. Di dalamnya terdapat ajaran mengenai cara seseorang menempatkan diri, menghargai orang lain, menjaga sikap, serta mempertahankan martabat melalui penampilan dan tutur kata.
Secara sederhana, Ajining Raga Saka Busana memiliki makna bahwa kehormatan atau penilaian terhadap seseorang secara lahiriah dapat tercermin dari busana yang dikenakannya. Sementara Ajining Diri Saka Lati berarti harga diri seseorang dapat terlihat dari perkataan yang keluar dari lisannya.

Busana Bukan Sekadar Penampilan
Dalam pandangan budaya Jawa, busana tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh. Cara berpakaian juga menjadi bagian dari etika dalam kehidupan sosial.

Seseorang tidak harus mengenakan pakaian mahal untuk menunjukkan kehormatan. Pakaian yang bersih, rapi, sopan, dan sesuai dengan tempat maupun keadaan justru menjadi bentuk penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain.Ketika menghadiri acara resmi, seseorang tentu dituntut berpakaian berbeda dengan ketika berada di rumah. Begitu pula saat berada di lingkungan masyarakat, tempat ibadah, sekolah, kantor, atau menghadiri kegiatan budaya.

Pesan tersebut mengajarkan bahwa kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan merupakan bagian dari tata krama.

Namun demikian, pepatah ini tidak boleh dimaknai bahwa harga seseorang ditentukan oleh merek, harga, atau kemewahan pakaian. Nilai manusia tetap berada pada karakter, perilaku, dan akhlaknya.

Tutur Kata Menjadi Cermin Diri
Bagian kedua dari pepatah tersebut justru memiliki pesan yang sangat kuat, yakni Ajining Diri Saka Lati. Kata lati dalam bahasa Jawa berarti lidah.
Maknanya, kehormatan seseorang dapat tercermin dari cara berbicara. Ucapan yang santun, jujur, bijaksana, dan tidak menyakiti orang lain dapat membangun kepercayaan.

Sebaliknya, perkataan kasar, penghinaan, fitnah, kebohongan, maupun ucapan yang merendahkan orang lain dapat merusak citra seseorang dalam waktu singkat.

Orang yang mampu menjaga lisannya biasanya lebih mudah dipercaya. Ia memahami bahwa setiap perkataan memiliki konsekuensi. Karena itu, sebelum berbicara, seseorang perlu mempertimbangkan apakah ucapan tersebut benar, bermanfaat, dan tidak merugikan orang lain.
Dalam kehidupan bermasyarakat, kemampuan menjaga ucapan menjadi sangat penting karena persoalan kecil dapat berkembang menjadi konflik ketika disampaikan dengan bahasa yang salah.

Semakin Penting di Era Media Sosial

Filosofi Ajining Diri Saka Lati menjadi semakin relevan di era digital. Saat ini, “lati” atau ucapan seseorang tidak hanya terdengar secara langsung. Kata-kata juga hadir melalui komentar, unggahan media sosial, pesan WhatsApp, maupun berbagai platform digital lainnya.
Satu kalimat yang ditulis di media sosial dapat dibaca oleh ribuan bahkan jutaan orang. Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa etika berkomunikasi di ruang digital sama pentingnya dengan etika berbicara secara langsung.
Kritik terhadap kebijakan atau suatu persoalan tentu diperbolehkan. Namun, kritik idealnya disampaikan berdasarkan fakta, menggunakan bahasa yang santun, serta tidak berubah menjadi penghinaan atau serangan terhadap pribadi.

Pepatah Jawa tersebut seakan mengingatkan bahwa sebelum jari mengetik sebuah komentar, seseorang perlu berpikir terlebih dahulu. Sebab, tulisan di dunia maya juga menjadi bagian dari gambaran karakter seseorang.

Menjaga Lisan Berarti Menjaga Martabat
Dalam kehidupan sehari-hari, menjaga ucapan memang bukan perkara mudah. Perbedaan pendapat, persoalan pekerjaan, hubungan sosial, maupun konflik kepentingan terkadang membuat emosi meningkat.

Namun, kemampuan menahan diri dan memilih kata yang tepat merupakan bentuk kedewasaan. Tidak semua persoalan harus dijawab dengan kemarahan dan tidak semua perbedaan harus berakhir dengan permusuhan.
Meminta maaf ketika salah, mengakui kekeliruan, menghargai pendapat orang lain, serta menyampaikan kritik dengan cara yang baik merupakan bagian dari menjaga martabat diri.

Di sinilah nilai Ajining Diri Saka Lati menemukan makna yang lebih luas. Harga diri bukan dibangun dengan banyak bicara, tetapi melalui kemampuan menggunakan perkataan secara bijaksana.

Warisan Budaya yang Tetap Relevan
Pepatah Ajining Raga Saka Busana, Ajining Diri Saka Lati merupakan bagian dari kekayaan kearifan lokal Jawa. Nilai yang terkandung di dalamnya dapat diterapkan oleh berbagai kalangan, baik generasi tua maupun generasi muda.

Bagi anak-anak muda, filosofi ini dapat menjadi pengingat agar tidak kehilangan sopan santun di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup. Sementara bagi orang dewasa, pesan tersebut dapat menjadi teladan dalam membangun komunikasi yang sehat di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Pada akhirnya, manusia tidak hanya dinilai dari apa yang dikenakannya, tetapi juga dari apa yang dikatakannya dan bagaimana ia memperlakukan orang lain.

Busana yang rapi dapat mencerminkan penghargaan terhadap diri. Namun, tutur kata yang baik menunjukkan kualitas kepribadian. Ketika keduanya berjalan seimbang, seseorang tidak hanya terlihat baik dari luar, tetapi juga memiliki nilai yang baik dari dalam.
“Ajining Raga Saka Busana, Ajining Diri Saka Lati” menjadi pengingat bahwa menjaga penampilan adalah bagian dari etika, sementara menjaga ucapan merupakan bagian dari menjaga kehormatan.

Di tengah derasnya perubahan zaman, pitutur luhur tersebut layak terus dikenalkan kepada generasi berikutnya. Bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi sebagai pedoman sederhana untuk membangun kehidupan yang lebih santun, saling menghargai, dan beradab.

(Gung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *