Beranda / Opini / Memberi Bukan Karena Kita Kaya, tetapi Karena Tahu

Memberi Bukan Karena Kita Kaya, tetapi Karena Tahu

SIDOARJO,penarealita.id. – Memberi kepada sesama tidak selalu lahir dari kondisi seseorang yang serba berkecukupan. Ada kalanya, seseorang memilih berbagi justru karena pernah merasakan hidup dalam keterbatasan, ketika kebutuhan begitu banyak sementara kemampuan untuk memenuhinya sangat terbatas.

Kalimat, “Kadang kita memberi bukan karena kita kaya, tapi karena kita tahu bagaimana rasanya ketika tak punya apa-apa,” menjadi sebuah pengingat bahwa kepedulian kepada sesama tidak semata-mata diukur dari seberapa besar materi yang diberikan. Nilai sebuah pemberian juga terletak pada ketulusan dan kepedulian terhadap orang lain.

Bagi sebagian orang, memberikan makanan, uang, pakaian, atau sekadar membantu seseorang menyelesaikan persoalan mungkin terlihat sederhana. Namun bagi penerima, bantuan tersebut bisa memiliki arti yang jauh lebih besar, terutama ketika diberikan pada saat benar-benar membutuhkan.

Berbagi Berawal dari Empati

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua orang memiliki perjalanan hidup yang sama. Ada yang sejak kecil hidup berkecukupan, tetapi ada pula yang harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan dasar. Pengalaman hidup itulah yang terkadang membuat seseorang lebih mudah memahami kesulitan orang lain.

Mereka yang pernah merasakan tidak memiliki uang ketika kebutuhan datang, pernah menahan keinginan karena kondisi ekonomi, atau pernah berada dalam situasi harus memilih antara memenuhi satu kebutuhan dengan kebutuhan lainnya, biasanya memahami bahwa bantuan sekecil apa pun dapat memberikan harapan.

Karena itu, berbagi tidak harus menunggu menjadi kaya. Tidak harus menunggu memiliki rumah besar, kendaraan mewah, tabungan berlimpah, atau penghasilan tinggi.

Berbagi dapat dilakukan sesuai kemampuan.

Seseorang mungkin hanya mampu memberikan sebungkus nasi. Orang lain mungkin mampu membantu biaya pendidikan. Ada pula yang hanya bisa memberikan tenaga, waktu, perhatian, atau sekadar mendengarkan keluhan seseorang yang sedang menghadapi masalah.

Semuanya memiliki nilai ketika dilakukan dengan ketulusan.
Mengapa Orang Mau Memberi?
Pertanyaan sederhana sering muncul: mengapa seseorang mau memberikan sesuatu kepada orang lain ketika dirinya sendiri juga memiliki kebutuhan?
Jawabannya bisa sangat sederhana, yakni karena empati.

Seseorang yang pernah berada dalam kesulitan akan memahami bagaimana rasanya berharap ada orang yang datang memberikan pertolongan. Pengalaman tersebut kemudian menjadi alasan untuk tidak menutup mata ketika melihat orang lain mengalami kondisi serupa.
Who atau siapa yang bisa berbagi? Jawabannya adalah siapa saja. Tidak harus orang kaya, pejabat, pengusaha, ataupun tokoh masyarakat. Masyarakat biasa pun dapat mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing.

Jangan Menunggu Kaya untuk Berbuat Baik
Kebiasaan menunda kebaikan terkadang muncul karena seseorang merasa dirinya belum cukup mampu.

“Nanti kalau sudah kaya saya akan membantu.”
“Nanti kalau penghasilan sudah besar saya akan berbagi.”
“Nanti kalau sudah sukses saya akan membantu orang lain.”

Padahal kehidupan tidak pernah memberikan kepastian mengenai kapan seseorang akan menjadi kaya atau sukses. Jika kebaikan selalu menunggu kondisi sempurna, bisa jadi kesempatan untuk membantu justru terlewat.

Karena itu, prinsip yang lebih sederhana adalah memberikan sesuai kemampuan.
Jika memiliki lebih, berbagilah lebih banyak. Jika hanya memiliki sedikit, berbagi sedikit pun tidak menjadi persoalan. Bahkan terkadang, bantuan kecil yang diberikan pada waktu yang tepat justru memiliki dampak besar bagi penerimanya.
Yang terpenting bukan nominalnya, melainkan kepedulian yang ada di baliknya.

Pernah Merasakan Kekurangan Membuat Hati Lebih Peka

Pengalaman hidup sering menjadi guru terbaik. Seseorang yang pernah merasakan kesulitan biasanya memiliki kepekaan berbeda ketika melihat orang lain mengalami persoalan.

Ketika melihat seseorang kesulitan membeli makanan, misalnya, ia mungkin teringat masa ketika dirinya pernah mengalami hal serupa.
Ketika melihat anak membutuhkan perlengkapan sekolah, ia mungkin teringat masa lalu ketika harus menggunakan barang seadanya.

Dari pengalaman itulah muncul rasa ingin membantu.

Bukan karena dirinya paling kaya, bukan pula karena ingin dianggap sebagai orang baik, tetapi karena ia mengetahui sendiri betapa beratnya menjalani kehidupan ketika tidak memiliki apa-apa.

Memberi Tanpa Merendahkan

Ada satu hal penting dalam berbagi yang tidak kalah berharga, yakni menjaga perasaan dan harga diri penerima.
Bantuan seharusnya tidak membuat orang yang menerima merasa semakin rendah. Jangan sampai pemberian justru disertai ucapan yang menyakitkan atau dipertontonkan hanya untuk mendapatkan pengakuan.

Kebaikan akan menjadi lebih bermakna ketika dilakukan secara manusiawi.
Sebab seseorang yang menerima bantuan hari ini belum tentu selamanya berada dalam kesulitan. Begitu pula orang yang memberikan bantuan hari ini belum tentu selamanya berada dalam kondisi berkecukupan.
Kehidupan dapat berubah kapan saja.
Hari ini kita membantu, mungkin suatu saat nanti justru kita yang membutuhkan pertolongan.

Kebaikan Tidak Pernah Benar-Benar Hilang

Dalam kehidupan bermasyarakat, budaya saling membantu merupakan salah satu kekuatan yang membuat hubungan sosial tetap terjaga.
Kepedulian dari satu orang dapat menginspirasi orang lain. Sebuah bantuan kecil dapat melahirkan bantuan berikutnya. Dari sana terbentuk rantai kebaikan yang terus bergerak dari satu manusia kepada manusia lainnya.

Tidak semua kebaikan harus diketahui banyak orang.

Ada kebaikan yang cukup diketahui oleh pemberi dan penerima. Ada pula bantuan yang bahkan dilakukan tanpa menyebutkan nama.
Justru dalam kesederhanaan itulah ketulusan sering terlihat.
Pada akhirnya, memberi bukan tentang siapa yang paling kaya. Memberi adalah tentang siapa yang masih memiliki kepedulian.

Sebab orang yang pernah merasakan pahitnya kekurangan biasanya tahu betapa berharganya sebuah uluran tangan ketika hidup sedang berada di titik paling sulit.

Maka, jika hari ini kita memiliki sedikit rezeki lebih, tidak ada salahnya menyisihkan sebagian untuk orang lain.
Bukan karena kita kaya.

Tetapi karena kita tahu bagaimana rasanya ketika tak punya apa-apa.
Dan mungkin, bagi seseorang yang sedang berada dalam kesulitan, sedikit yang kita berikan hari ini bisa menjadi alasan baginya untuk kembali percaya bahwa masih ada orang yang peduli.

(Gung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *