SIDOARJO,penarealita id. – Peribahasa “besar pasak daripada tiang” mungkin sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Ungkapan yang diwariskan dari generasi ke generasi tersebut memiliki makna sederhana, tetapi sangat dalam, terutama ketika dikaitkan dengan persoalan keuangan dan gaya hidup masyarakat di tengah perkembangan zaman.
Secara harfiah, pasak merupakan bagian yang digunakan untuk memperkuat atau menopang sesuatu, sedangkan tiang menjadi bagian utama penyangga sebuah bangunan. Namun, dalam konteks peribahasa, “besar pasak daripada tiang” menggambarkan kondisi ketika pengeluaran seseorang lebih besar daripada pendapatan yang diperoleh..
Peribahasa tersebut menjadi sebuah pengingat agar seseorang mampu mengatur kehidupan secara seimbang. Pendapatan yang diperoleh seharusnya menjadi dasar dalam menentukan besarnya pengeluaran. Jika pengeluaran terus-menerus lebih besar daripada pemasukan, kondisi keuangan dapat terganggu dan pada akhirnya menimbulkan berbagai persoalan.
Fenomena tersebut dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang memiliki penghasilan tetap, misalnya, harus memenuhi kebutuhan pokok seperti makanan, tempat tinggal, pendidikan, transportasi, listrik, air dan kebutuhan keluarga lainnya. Di luar kebutuhan tersebut, masih terdapat berbagai keinginan yang terkadang sulit dibedakan dengan kebutuhan.
Gaya Hidup dan Tekanan Sosial
Perkembangan teknologi dan media sosial turut membuat masyarakat semakin mudah melihat gaya hidup orang lain. Pamer kendaraan, rumah, pakaian bermerek, perjalanan wisata hingga kuliner mahal dapat dengan mudah ditemukan di berbagai platform digital.
Kondisi tersebut terkadang menimbulkan keinginan untuk mengikuti gaya hidup yang sama. Persoalannya, kemampuan ekonomi setiap orang tentu berbeda. Ketika keinginan untuk mengikuti tren tidak diimbangi dengan kemampuan finansial, pengeluaran dapat meningkat tanpa disadari.
Di sinilah makna peribahasa “besar pasak daripada tiang” menjadi semakin relevan. Seseorang tidak seharusnya memaksakan diri memenuhi keinginan yang berada di luar kemampuan ekonominya hanya demi mendapatkan pengakuan sosial.
Mengatur Keuangan Menjadi Hal Penting
Pengelolaan keuangan menjadi salah satu cara untuk menghindari kondisi tersebut. Masyarakat perlu mengetahui berapa pendapatan yang diterima dan ke mana saja uang tersebut digunakan.
Membuat catatan pemasukan dan pengeluaran sederhana dapat menjadi langkah awal. Dari catatan tersebut, seseorang dapat melihat apakah pengeluarannya masih dalam batas kemampuan atau justru sudah melebihi pendapatan..
Kebutuhan pokok sebaiknya ditempatkan sebagai prioritas. Setelah kebutuhan utama terpenuhi, barulah seseorang dapat mempertimbangkan kebutuhan tambahan maupun keinginan pribadi.
Selain itu, kebiasaan menabung dan menyiapkan dana darurat juga penting. Tidak semua penghasilan harus dihabiskan pada saat diterima. Sebagian dapat disisihkan untuk kebutuhan masa depan maupun menghadapi kondisi tidak terduga.
Jangan Terjebak Gengsi.
Salah satu penyebab seseorang mengalami kondisi “besar pasak daripada tiang” adalah gengsi. Keinginan untuk terlihat sukses di hadapan orang lain terkadang membuat seseorang mengambil keputusan keuangan yang sebenarnya tidak sesuai dengan kemampuannya.
Misalnya, membeli barang mahal dengan cicilan panjang hanya karena mengikuti tren. Pada awalnya mungkin terlihat ringan karena pembayaran dilakukan secara bertahap. Namun, jika terlalu banyak cicilan, pendapatan bulanan dapat habis hanya untuk membayar kewajiban.
Persoalan menjadi lebih berat ketika seseorang tidak memiliki dana cadangan. Ketika terjadi kebutuhan mendadak, pilihan yang tersedia semakin terbatas dan tidak jarang seseorang kembali berutang untuk menutup kebutuhan tersebut.
Makna Peribahasa bagi Keluarga
Peribahasa ini juga memiliki kaitan erat dengan kehidupan keluarga. Dalam rumah tangga, penghasilan bukan hanya digunakan untuk kebutuhan satu orang, melainkan harus memenuhi berbagai kebutuhan bersama.
Karena itu, komunikasi mengenai keuangan antara anggota keluarga menjadi penting. Suami dan istri, misalnya, perlu mengetahui kondisi pemasukan serta pengeluaran rumah tangga sehingga keputusan keuangan dapat dibuat secara bersama-sama.
Pendidikan kepada anak mengenai cara menggunakan uang juga tidak kalah penting. Anak perlu dikenalkan dengan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan sejak dini. Dengan demikian, mereka dapat tumbuh dengan pemahaman bahwa uang perlu digunakan secara bijaksana.
Pelajaran dari Peribahasa Lama
Menariknya, meskipun berasal dari tradisi bahasa lama, “besar pasak daripada tiang” masih sangat sesuai dengan kondisi masyarakat modern. Perubahan zaman memang membawa kemudahan dalam berbelanja, bertransaksi dan memperoleh berbagai layanan, tetapi kemudahan tersebut juga dapat mendorong perilaku konsumtif.
Pesan utama peribahasa ini bukan berarti seseorang tidak boleh menikmati hasil kerja atau membeli barang yang diinginkan. Intinya adalah kemampuan untuk menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan ekonomi.
Hidup sederhana bukan berarti hidup tanpa menikmati hasil kerja. Sebaliknya, hidup sederhana dapat menjadi bentuk kebijaksanaan dalam menentukan prioritas.
Peribahasa “besar pasak daripada tiang” mengandung pesan agar manusia tidak menjalani kehidupan dengan pengeluaran yang lebih besar daripada pendapatan. Prinsip tersebut berlaku bagi siapa saja, baik individu maupun keluarga.
Di tengah kehidupan modern yang penuh dengan tawaran konsumsi dan tekanan gaya hidup, kemampuan mengendalikan diri menjadi semakin penting. Jangan sampai pendapatan yang diperoleh dengan kerja keras justru habis untuk memenuhi keinginan yang tidak benar-benar diperlukan.
Pada akhirnya, ukuran kesejahteraan bukan semata-mata seberapa mahal barang yang dimiliki atau seberapa mewah kehidupan yang ditampilkan kepada orang lain. Kesejahteraan juga dapat dilihat dari kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan, mengelola pendapatan, memiliki cadangan untuk masa depan dan menjalani kehidupan tanpa terus-menerus terbebani oleh pengeluaran.
Peribahasa lama itu pun kembali mengingatkan: jangan sampai pasak lebih besar daripada tiang. Sesuaikan gaya hidup dengan kemampuan, bukan memaksakan kemampuan mengikuti gaya hidup.
(Gung)















