Beranda / Opini / Ojo Dumeh, Falsafah Jawa yang Mengajarkan Manusia untuk Tidak Sombong dan Selalu Ingat Diri

Ojo Dumeh, Falsafah Jawa yang Mengajarkan Manusia untuk Tidak Sombong dan Selalu Ingat Diri

SIDOARJO, penarealita.id.– Di tengah kehidupan masyarakat yang terus berubah, berbagai falsafah dan pitutur Jawa masih memiliki tempat penting sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. Salah satunya adalah ungkapan “Ojo dumeh”, sebuah nasihat sederhana yang memiliki makna mendalam tentang kerendahan hati, kesadaran diri, dan pentingnya menghargai sesama.

Secara bahasa, “ojo” berarti jangan, sedangkan “dumeh” dapat dimaknai sebagai mentang-mentang atau merasa memiliki kelebihan tertentu. Karena itu, “ojo dumeh” secara sederhana berarti “jangan mentang-mentang”. Ungkapan tersebut biasanya digunakan untuk mengingatkan seseorang agar tidak menyalahgunakan kelebihan, kedudukan, kekayaan, kepandaian maupun kekuasaan yang dimilikinya.

Falsafah ini bukan sekadar rangkaian kata dalam bahasa Jawa. “Ojo dumeh” mengandung pesan moral agar seseorang tetap rendah hati ketika berada dalam posisi yang lebih tinggi dibandingkan orang lain. Sebab, kehidupan manusia selalu mengalami perubahan. Seseorang yang hari ini berada di atas belum tentu selamanya berada di atas.

Ojo Dumeh dan Pentingnya Rendah Hati
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa saja memiliki kelebihan dibandingkan orang lain. Ada yang memiliki kekayaan, jabatan tinggi, pendidikan, kecerdasan, keterampilan, popularitas maupun pengaruh di tengah masyarakat.
Namun, kelebihan tersebut seharusnya tidak menjadi alasan untuk merendahkan orang lain.

Pesan “ojo dumeh” mengajarkan bahwa semakin tinggi posisi seseorang, seharusnya semakin besar pula rasa tanggung jawabnya. Kekayaan hendaknya digunakan untuk membantu, jabatan digunakan untuk melayani, ilmu digunakan untuk mencerdaskan, sedangkan kekuasaan digunakan untuk menciptakan keadilan.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan seseorang bukan hanya dilihat dari apa yang dimilikinya, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan orang lain.

Ojo Dumeh Sugih

Ungkapan “ojo dumeh sugih” berarti jangan mentang-mentang kaya. Nasihat tersebut mengingatkan seseorang agar kekayaan tidak membuat dirinya berubah menjadi sombong atau merasa lebih tinggi dibandingkan orang lain.
Kekayaan memang dapat memberikan kemudahan dalam kehidupan. Namun, harta benda bukanlah ukuran mutlak kemuliaan seseorang. Kekayaan juga dapat berubah dan hilang apabila tidak dikelola dengan baik.

Karena itu, orang yang memiliki kemampuan ekonomi lebih hendaknya tetap rendah hati dan tidak meremehkan mereka yang kehidupannya sederhana.

Ojo Dumeh Kuwasa

Sementara itu, “ojo dumeh kuwasa” berarti jangan mentang-mentang berkuasa atau memiliki jabatan.
Ungkapan ini sangat relevan dalam kehidupan bermasyarakat maupun pemerintahan. Jabatan pada dasarnya merupakan amanah dan tanggung jawab, bukan alat untuk bertindak sewenang-wenang.

Seseorang yang mendapatkan kepercayaan untuk memimpin seharusnya mampu mendengarkan masyarakat, mengambil keputusan secara bijaksana, serta menggunakan kewenangannya untuk kepentingan bersama.

Kekuasaan yang digunakan tanpa kebijaksanaan justru dapat melahirkan kesenjangan dan ketidakpercayaan. Sebaliknya, pemimpin yang memahami makna “ojo dumeh kuwasa” akan menyadari bahwa jabatan memiliki batas waktu dan pada akhirnya akan kembali kepada masyarakat.

Ojo Dumeh Pinter

Ada pula ungkapan “ojo dumeh pinter”, yang berarti jangan mentang-mentang pintar.

Kepandaian merupakan anugerah dan hasil dari proses belajar. Namun, ilmu yang tinggi seharusnya membuat seseorang semakin bijaksana, bukan semakin merendahkan orang lain.

Orang yang benar-benar berilmu biasanya menyadari bahwa masih banyak hal yang belum diketahui. Karena itu, ilmu semestinya digunakan untuk membantu, memberikan solusi, serta menciptakan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Mengingatkan Bahwa Kehidupan Bersifat Sementara

Salah satu pesan penting dalam filosofi “ojo dumeh” adalah kesadaran bahwa segala sesuatu dalam kehidupan bersifat sementara

Kekayaan dapat berkurang. Jabatan dapat berakhir. Popularitas dapat hilang. Kekuatan fisik juga akan mengalami perubahan seiring bertambahnya usia.
Kesadaran tersebut menjadi pengingat agar manusia tidak terlalu membanggakan apa yang dimilikinya.

Dalam perspektif kehidupan spiritual, berbagai kelebihan yang dimiliki manusia pada akhirnya merupakan titipan Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan.

Karena itu, manusia dianjurkan untuk menggunakan apa yang dimilikinya dengan sebaik-baiknya dan tidak menjadikannya sebagai alasan untuk berlaku semena-mena.

Tetap Menghargai Sesama

Falsafah “ojo dumeh” juga mengajarkan pentingnya menjaga hubungan sosial. Perbedaan status ekonomi, pendidikan, pekerjaan maupun jabatan seharusnya tidak menghilangkan rasa saling menghormati.

Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap orang memiliki peran dan martabat masing-masing. Mereka yang memiliki kelebihan dapat membantu mereka yang membutuhkan. Sebaliknya, mereka yang memiliki keterbatasan tetap memiliki hak untuk dihargai dan diperlakukan secara manusiawi.
Nilai semacam inilah yang membuat “ojo dumeh” tetap relevan meskipun zaman telah berubah.

Relevan di Era Media Sosial

Di era digital, filosofi “ojo dumeh” justru semakin penting. Media sosial memungkinkan seseorang dengan cepat menunjukkan kekayaan, keberhasilan, jabatan, maupun pencapaiannya kepada publik.

Tanpa kesadaran diri, kebiasaan tersebut dapat berubah menjadi ajang pamer dan membangun kesan bahwa seseorang lebih hebat daripada orang lain.

“Ojo dumeh” dapat menjadi pengingat agar seseorang tetap bijak ketika menggunakan media sosial. Tidak semua keberhasilan harus dipamerkan dan tidak semua perbedaan harus dijadikan alasan untuk merendahkan orang lain.

Warisan Nilai yang Patut Dijaga
Falsafah Jawa seperti “ojo dumeh” merupakan bagian dari kekayaan budaya yang mengandung nilai pendidikan karakter. Pesannya sederhana, tetapi penerapannya membutuhkan kesadaran dalam kehidupan sehari-hari.

Jangan mentang-mentang kaya kemudian merendahkan yang miskin. Jangan mentang-mentang berkuasa kemudian bertindak semena-mena. Jangan mentang-mentang pintar kemudian menganggap orang lain bodoh.

Pada akhirnya, manusia dinilai bukan semata-mata dari seberapa tinggi kedudukannya, seberapa banyak hartanya, atau seberapa besar pengaruhnya. Yang lebih penting adalah bagaimana ia menggunakan semua kelebihan tersebut untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

“Ojo dumeh” mengajarkan satu hal mendasar: ketika berada di atas, jangan lupa melihat ke bawah; ketika memiliki kelebihan, jangan lupa menghargai sesama; dan ketika mendapatkan amanah, jangan pernah lupa bahwa semuanya memiliki batas waktu.

Falsafah tersebut menjadi pengingat agar manusia tetap andhap asor, rendah hati, tahu diri, serta mampu menjaga keseimbangan antara keberhasilan pribadi dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Di tengah kehidupan modern yang sering menempatkan materi, jabatan dan popularitas sebagai ukuran keberhasilan, pesan “ojo dumeh” tetap menjadi nasihat yang sederhana namun sangat berharga: jangan mentang-mentang memiliki kelebihan, lalu kehilangan rasa kemanusiaan.

(Gung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *